Madiun – Indonesia tengah menikmati bonus demografi dengan mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 284 juta jiwa. Namun, peluang tersebut masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi pada 2025 baru mencapai 32,89 persen, sementara tingkat pengangguran terbuka masih berada pada angka 4,76 persen atau sekitar 7,24 juta orang. Di sisi lain, jumlah penduduk miskin tercatat sebesar 23,85 juta jiwa. Kondisi ini menuntut perguruan tinggi untuk semakin relevan dalam menyiapkan lulusan yang kompeten sekaligus mampu berkontribusi dalam penyelesaian berbagai persoalan pembangunan.
Merespons tantangan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menegaskan pentingnya transformasi perguruan tinggi agar semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan dampak nyata. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Dies Natalis ke-51 Universitas PGRI Madiun (Unipma), Sabtu (6/6).
“Perguruan tinggi harus selalu membaca kebutuhan masyarakat. Apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat? Apa yang dibutuhkan generasi muda? Kalau kita menjalankan pendidikan tinggi tetapi jauh dari kebutuhan masyarakat, lambat laun kita akan ditinggalkan,” tegas Wamen Fauzan.
Menurutnya, perguruan tinggi harus memperkuat peran sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial, ekonomi, maupun pembangunan daerah. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga harus menjadi pusat lahirnya inovasi dan solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Sejalan dengan itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak terus mendorong perguruan tinggi menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi.
Komitmen tersebut turut tercermin pada Unipma yang di usia ke-51 tahun telah memiliki 30 program studi dan 12 program studi terakreditasi unggul, serta tengah mempersiapkan pembukaan program doktoral dan profesi sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan.
Rektor Unipma, Supri Wahyudi Utomo, menyampaikan bahwa tema Dies Natalis tahun ini, “Unipma Unggul dalam Karya, Berdampak untuk Bangsa”, menjadi refleksi komitmen kampus untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Keunggulan sebuah perguruan tinggi tidak hanya tercermin dari berbagai penghargaan dan capaian akademik, tetapi juga dari dampak yang dihasilkan melalui inovasi, riset, serta pengabdian yang mampu menjawab kebutuhan dan tantangan zaman,” ujarnya.
Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat mutu pendidikan, memperluas kolaborasi, serta menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, bonus demografi dapat menjadi kekuatan strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak







